Apakah Protein Nabati Lebih Baik Dari Protein Hewani?

Nutrition

Banyak orang yang menghindari makanan yang berasal dari hewan dengan beragam alasan. Baik itu agama, kasihan terhadap binatang, maupun agar lebih ramah lingkungan. Dan ini semua bukan masalah bagi mereka yang hendak menjalankan keyakinan pribadi mereka. Yang menjadi masalah adalah orang-orang yang hendak memaksakan keyakinan mereka ke orang lain dengan argumen yang menyesatkan.

Contohnya adalah artikel dari luar negri yang menyatakan bahwa protein nabati lebih menyehatkan dari protein hewani. Semua murid SMU biologi tentunya tahu bahwa ada 9 macam asam amino penting yang tidak dapat diproduksi oleh tubuh sendiri. Asam amino adalah bahan baku untuk membangun otot dan memperbaiki sendi, dan organ lain dalam tubuh kita. Semua sumber protein hewani memiliki semua 9 asam amino penting ini. Selain dari kedelai, semua sumber protein nabati tidak memiliki kandungan asam amino penting yang lengkap. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa anak-anak yang banyak diberi makan protein kacang kedelai akan mengalami gangguan pertumbuhan organ sexual. Selain itu, studi perbandingan antara kasein, kedelai dan whey menunjukkan bahwa kacang kedelai baling jelek kegunaannya dalam membangun otot dan kekuatan. Lantas apa siih argumen bahwa protein nabati itu lebih baik dari protein hewani? Mari kita gali lebih lanjut:

1. Protein Nabati Lebih Kaya Nutrisi dan Serat

Percaya atau tidak, banyak orang vegetarian yang percaya hal ini. Padahal kenyataannya sumber protein nabati itu tidak mengandung Vitamin B complex, Vitamin A, Vitamin K, Thiamine, dan Niacin. Setahu saya siih semua yang diatas itu tergolong nutrisi yaah. Dan apabila anda memesan semangkuk soto, biasanya siih isinya bukan cuman ayam tapi juga kol dan tauge. Jadi bila dibilang makan protein nabati itu kaya serat jelas menyesatkan.

2. Orang yang Makan Protein Nabati Memiliki Kebiasaan yang Lebih Sehat

Biasanya orang yang menyatakan hal ini tidak akan bias memberikan satupun studi yang objektif. Kalaupun ada, biasanya cuman meta-studi yang tidak mempertimbangkan faktor geografi, demografi, atau bahkan kebiasaan merokok, walaupun semuanya sangat penting. Mari kita diskusikan mengapa ini semua penting. Apabila anda membandingkan desa termiskin di jawa barat dimana kebanyakan penduduknya tidak makan daging (karena terlalu miskin) dan biasa merokok dengan penduduk desa di Okinawa, Jepang, yang sering makan ikan, maka tentunya penduduk desa di Okinawa jauh lebih sehat. Sedangkan bila anda membandingkan orang suku Baduy dengan rata-rata staff IT di jakarta, jelas orang Baduy jauh lebih sehat, karena mereka tinggal di hutan yang udaranya bersih dan kemana-mana jalan kaki. Ini sebabnya kenapa faktor pengontrol dalam studi banding itu penting sekali. Sekarang bahkan ada studi yang menyatakan bahwa orang vegetarian memiliki resiko terkena kanker kolon yang lebih tinggi.

3. Kandungan Lemak Jenuh di Daging Lebih Tinggi

Daging apa? Lemak Jenuh yang mana? Dan apakah itu sesuatu yang buruk? Banyak orang barat yang percaya minyak jelantik itu suplemen sehat walaupun kandungan lemak jenuhnya sangat tinggi. Baru-baru ini saya makan di restoran vegetarian Hong Kong dengan seorang teman vegetarian. Kebanyakan makanan yang dia pesan itu kaya akan karbohidrat olahan dan gorengan. Beda dengan lemak jenuh dimana hingga saat ini masih ada perdebatan akan seberapa sehatnya mengkonsumsi lemak jenuh alami, Namun yang pasti semua ahli nutrisi setuju bahwa karbohidrat olahan dan makanan gorengan itu tidak baik untuk kesehatan. Yang menarik adalah menurut statistik di amerika serikat, konsumsi lemak binatang tidak berhubungan dengan resiko penyakit jantung.

4. Daging Olahan (pabrik) itu Bersifat Karsinogenik

Lantas bagaimana dengan daging non-olahan seperti rendang dan rawon? Daging olahan dalam hal ini seperti sosis, dendeng dll. WHO menggolongkan daging olahan sebagai karsinogen karena bisa meningkatkan resiko terkena kanker menurut studi mereka. Yang jarang disebut itu adalah peningkatan persentasenya sendiri beserta dengan artinya. Dan jawabannya adalah 0.0072% bila anda berasal dari golongan populasi beresiko tinggi. Resiko terkena sambaran petir itu cuman 0.0083%, artinya anda lebih mungkin terkena sambaran petir daripada terkena kanker karena makan dendeng (yang diasap tradisional, beda dengan dendeng modern yang mungkin kaya akan pengawet dan pewarna).

Kesimpulan

Setiap kali anda membaca berita dari dunia diet dan nutrisi, anda perlu mempertahankan sikap skeptis. Apabila penulis menyatakan “berdasarkan penelitian”, selalu cari sumber penelitiannya, pelaksanaan penelitiannya, dan siapa yang mendanainya. Kenyataannya itu dunia nutrisi ini seperti dunia kosmetik yang selalu menggunakan “penelitian pabrik sendiri” yang tidak bisa dibuktikan secara objektif. Dan apabila anda seorang pemakan daging, yang penting itu adalah diet yang seimbang biar sehat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *