Dongeng Kolesterol dan Penipuan Diet Global (3 dari 10)

Health Blog

Selamat bagi anda kaum pembaca yang telah bertahan hingga bagian tiga dari seri ini. Pada saat ini anda mungkin bertanya bila apa yang saya tulis ini benar, kenapa kebanyakan DOKTER sama sekali tidak mengetahuinya? Yaah, masalahnya kita menghadapi satu koalisi yang sangat kuat dari perusahaan makanan dan obat-obatan raksaksa dunia. Ini tidak berbeda kondisinya dengan delapan dasawarsa yang lalu ketika merokok dibilang “sehat” dan perlu ada banyak pengorbanan dari kaum terpelajar yang tidak terkorupsi oleh sogokan selama beberapa dasawarsa sebelum dampak buruk dari merokok mulai tersebar luas di khalayak umum.

 

smoking_01

Dokter tidak selalu merupakan sumber informasi kedokteran yang terbaik

Point yang kedua adalah kebanyakan dokter juga sangat sibuk, sehingga mereka biasanya bergantung pada sales dari perusahaan obat untuk menjelaskan segala obat-obatan terbaru. Lagipula, mari kita akui, membaca data asli hasil penelitian medis dilanjuti dengan melakukan analisis data sendiri itu membutuhkan banyak waktu dan usaha dibanding langsung membaca kesimpulannya. Sedangkan kesimpulan setiap orang itu khan berbeda-beda, apalagi kalau yang menulis itu dapat imbalan tertentu dari perusahaan obat.

Yang terakhir, kita sendiri sekarang telah memasuki era baru dimana koalisi “diet jantung” sendiri mulai runtuh. Semakin banyak orang, bahkan beberapa pemain besar dalam bisnis kesehatan yang mulai bergeser ke arah kebenaran. Dr. Christopher Wenger, ahli jantung dan wakil dari LG Health sendiri tahun 2014 menerbitkan pendapat dia di Jurnal Lanchaster General Hospital. Bahkan petunjuk diet Amerika akhirnya mulai mengakui pentingnya asam lemak jenuh dalam diet kita. Anda bisa membacanya lebih lanjut melalui publikasi Harvard mengenai petunjuk diet terbaru maupun versi CNN mengenai petunjuk diet amerika yang terbaru.

Saya akan berusaha sebisa mungkin untuk memberikan anda link ke semua data asli dari penelitian-penelitian yang disebut dalam buku Dr. Uffe Ravnskov. Ini untuk memberikan anda kesempatan untuk melakukan analisis anda sendiri berdasarkan data yang diberikan oleh pihak ke tiga yang terpercaya seperti National Institute of Health Amerika, The Lancet, maupun dari universitas terkemuka. Namun karena tidak semua data penelitian medis itu tersedia secara gratis, terkadang ada beberapa percobaan yang tidak memiliki data asli hasil percobaan tersebut.

Tanpa menunda lebih lanjut, mari kita telusuri dongeng berikutnya:

Dongeng #3: Makanan Kaya Lemak Meningkatkan Kolesterol Darah

Pertama, ijinkan saya menunjukkan diagram dibawah untuk menjelaskan hubungan donging ini dengan dua dongeng sebelumnya:

gambar1

Seperti yang telah saya jelaskan di bagian satu, tidak ada hubungan antara konsumsi lemak hewani di amerika dengan tingkat kematian dari penyakit jantung koroner selama satu abad terakhir. Dongeng kedua juga sudah dijelaskan dalam artikel ke dua dan sekarang kita lanjut ke dongeng ke tiga.

Dongeng “diet jantung” ini sangat erat hubungannya dengan kredibilitas Dr. Ancel keys. Dia adalah penggagas dan pemimpin penelitian tujuh negara yang diterbitkan tahun 1958 mengenai hubungan kandungan lemak dari makanan daerah di berbagai negara dibanding dengan rata-rata kandungan serum kolesterol darah penduduk negara tersebut. Titik data yang dihasilkan membentuk garis lurus, menunjukan korelasi yang sangat positif. Namun dalam bukunya, Dr. Ravsnov menunjukkan bahwa Dr. Keys juga mengumpulkan data dari beberapa negara lain yang sengaja tidak dimasukkan ke dalam hasil studi dia. Data-data ini sengaja tidak dimasukkan karena hasilnya sangat bertentangan dengan “kesimpulan” yang mau dia ambil. Selain dari itu, tingkat kematian penyakit jantung koroner di Finlandia, Yunani dan Yugoslavia memiliki variasi hingga lima kali lipat tergantung dari daerah mana data tersebut diambil, walaupun jenis makanan setiap daerah dalam masing2x negara hampir sama. Maksudnya walaupun orang Finlandia rata2x makan makanan yang sama, namun penduduk dari lain daerah bisa memiliki tingkat serum kolesterol darah yang sangat berbeda, seolah2x apa yang dikonsumsi itu tidak akan memberi dampak terhadap tingkat kolesterol mereka.

Empat studi lebih lanjut di Amerika, Inggris, Israel dan Finlandia juga gagal menunjukkan hubungan antara diet dengan tingkat serum lemak darah.

Studi lain lagi dilakukan di Universitas Maastricht di belanda, diterbitkan tahun 2003 mengenai efek kandungan lemak pada makanan dibanding konsumsi karbohidrat terhadap tingkat kolesterol, kolesterol, dan serum lemak dalam darah. Hasilnya adalah bila anda menyingkirkan semua lemak jenuh dari makanan anda dan menggantinya dengan karbohidrat, tingkat kolesterol anda tidak akan berubah. Satu studi lain juga dilakukan oleh Oakland Research Institute di Kalifornia mengenai hubungan lemak jenuh dengan penyakit jantung diterbitkan tahun 2010. Hasil studi ini adalah tidak ada hubungan antara konsumsi lemak jenuh dengan penyakit jantung. Dalam bukunya, Dr. Ravsnov mencoba memakan beragam jumlah telur per hari (dari 0 hingga 8) sambil mengukur kadar kolesterol darah dia setiap hari, hasilnya adalah nol besar (tidak ada hubungannya). Dalam satu studi yang dilakukan oleh Dr. Fred Kern dari University of Colorado School of Medicine yang diterbitkan jurnal kesehatan New England tahun 1991, seorang relawan berusia 88 tahun diberi makan hingga 25 butir telur setiap hari, namun tidak ada perubahan berarti dalam kolesterol darah dia. Perlu bukti lebih lanjut? Saya anjurkan anda membaca blog dari Stephan Guyet, peneliti obesitas dan ahli saraf dengan gelar doktor dari University of Washington.

Karena itu artikel ini mau saya tutup dengan satu pertanyaan: Bila kadar kolesterol sangat penting, memangnya bisa dirubah dengan merubah diet anda?

3 thoughts on “Dongeng Kolesterol dan Penipuan Diet Global (3 dari 10)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *